Pulang kerja capek banget rasanya, kerja jam lima sore ampe jam 12 malam, habis kerja langsung pulang, sampai di rumah langsung ke tempat biasanya yang aku tempati…kasuuurrr…ni adalah teman sejati selain teman-teman yang lain. Sebelum sampai di rumah aku dapat SMS yang isi nya” besok libur kita kemna??” Itu pesan yang kuterima sebelum pulang, langsung aku balas isinya “ Terserah aja” itu jawabku singkat. Nah kebetulan besoknya aku libur kerja. Kita besok ke Siak yuk? Ajak teman satu rumah ku, Pak Fa’i, wah kebetulan pikirku, langsung aja aku iyakan ajakan itu. Aku langsung tidur karena kecapean. Besok paginya sebelum berangkat aku sempat kan dulu buat nyuci baju, maklum belum ada yang nyuciin, nama nya juga anak kos, semua pekerjaan dilakukan sendiri. Kira-kira jam 10 pagi aku siap untuk berangkat ke Siak.
Tapi akhirnya kami berangkat dari rumah pukul 10.30 pagi, kebetulan hari itu libur, kami bisa nikmati hari itu sepuasnya…nah perjalan kesana cukup menyenangkan, dengan kecepatan motor kira-kira 80 km/jam, cukup buat mendebarkan jantung, tapi asyik lho….kebetulan kami berangkat cuma dua motor aja, jadi aku sendiri bawa motor, teman ku sama temannya. Dari Rumbai kami langsung menuju arah ke minas, kami terpaksa lewat minas karena katanya lewat jalan CPI nga’ di bolehin, ya begini lah kalau jadi orang yang ngak penting bagi orang….hehhehe,
Sebelum sampai di Siak kami singgah dulu di Perawang untuk istirahat sebentar. Sampai di Perawang jam 11.30, jadi perjalanan kami memakan waktu 1.5 jam untuk sampai ke Perawang, lumayan cepat kan??? Ya begitulah. Nah di Perawang kami singgah di sebuah Puja Sera gitu, tempat makan yang cukup enak dan nyaman, suasana ngak bikin bosan, di pinggir sungai siak. Pesan mie Tiaw enank banget….sambil makan sambil nikmati aliran sungai siak yang banyak di lalui berbagai macam kapal. Habis makan jam udah menunjukkan pukul 12.15, dah masuk waktunya salat dzuhur dulu, kami salat dzuhur dulu, tapi mushala nya kurang bersih, banyak debu dan tempat nya kotor, tapi ya mau gimna lagi, kami tetap salat juga.
Sebelum melanjutkan perjalanan kami nikmati dulu suasana di sekitar sungai, pemandangan nya cukup nyaman, tapi sayangnya cuaca kurang mendukung, cuacanya panas banget, ya tau sendiri aja jam nya jam 12 siang…hihihih…kira-kira satu jam di pinggiran sungai kami langsung menuju ke Siak, munkin udah tau semua, kalau mau ke siak kita harus menyebrangi sungai dulu, wah, kami terpaksa ngantri buat nyebrang. Di sana cuma ada satu alat penyebrangan yang gratis, tapi kalau mau bayar sih ada, namun cukup mahal, satu kali penyebrangan saja di kenakan tarif 15 ribu per motor, tapi kalau lewat Ferry kita ga d punggut biaya, tapi ga enanknya ngantri dan rebutan buat naik ke Ferry. Kami putuskan buat naik ferry aja, jadi kami terpaksa ikut antrian, disana antriannya kurang teratur, semuanya mau duluan naik.
Pemandangan di penyebranga itu cukup bikin mata kurang nyaman, suasananya berantakan dan kurang terawat, begitulah pemandangan disana tiap hari nya, penuh antrean, berpanasan dan lain2. Kalau di pikir-pikir ga kuat rasanya melalui itu semua. Hampir menunggu 2 jam, barulah giliran kami yang naik ke ferry, bayangkan saja kami menunggu dari pukul 12.30 sampai jam 2 lebih….capek, bosan, dah ngak kuat lagi rasanya melanjutkan perjalanan, tapi kami tetap berangkat. Sampai di seberang barulah perasaan lega dan bebas….
Kami pun langsung menuju ke Siak, walaupun sebelumnya kami belum pernah kesana, tapi berkat kebaranian…hehhehe kami terus menelusuri jalanan yang sangat amat panas waktu itu. Tapi untung jalannya bagus, dan datar, jadi perjalanan bisa jadi lebih cepat dan nyaman. Di sisi jalanan masih banyak hutanya, ngak seperti di Pekanbaru banyak gedung-gedung. Perjalanan kesana memakan waktu lebih kurang satu jam lebih dikit dari Perawang. Sebelum sampai di perkampungannya kita terlbih dahulu melewati jembatan yang baru di bangun disana, jembatan ini di resmikan presiden RI kita Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, keren kan? Sampai pak SBY yang resmikan….jembatan ini di beri nama Tengku Agung Sultanah Latifah yang di harapkan bisa mempercepat pembangunan di daerah itu.
Bercerita tentang jembatan ini, dulu di rancang sejak tahun 2001oleh tim dari ITB (Institute Tekhnologi Bandung), jembatan ini memiliki panjang 1.196 meter, lebar 16,95 meter ditambah dua buah trotoar selebar 2,25 meter yang mengapit sisi kanan dan kiri jembatan dan memili ketinggian 23 meter di atas permukaan air Sungai Siak yang lebarnya mencapai sekitar 300 meter, dan di tengah jembatan tersebut terdapat dua menara yang memiliki ketinggian 80 meter masing-masingnya, dan di kedua menara ini terdapat dua buah lift untuk menuju puncak menara. Nah di puncak menara ini katanya di buat semacam café, seru kan?? Tapi kami cuma melihat jembatan dari bawahnya saja, belum bisa naik ke puncak menaranya.
Melewati jembatan Siak nan Megah, kami langsung ke perkampungan Kota Siak, saya sempat heran dengan kota ini, kota nya rapi, bersih dan nyaman, kalau di bandingkan dengan pekanbaru, saya kira kota siak lebih bersih dan rapi. Kami langsung menuju ke Istana Siak, tapi kami sempat nyasar, ya kami belum tau jalan menuju ke istana, jadi ya wajar aja kalau nyasar…heheheh….untuk ada abang-abang yang ngsih tau kami, katanya “ kalau mau ke Istana Siak, adek lurus aja arah sana” sambil menunjuk ke arah yang berlawanan dengan kami. Ternyata kami salah belok waktu di persimpangan itu, harusnya kami belok ke arah kanan. Tapi ngak apa-apa. Kami langsung berbalik arah menuju istana siak.
Akhirnya kami sampai juga di Istana Siak. Langsung masuk ke halaman nya dan parkirkan motor kami menuju masuk ke dalam Istana, tapi sebelum masuk kami di suruh letakkan sepatu di tempat yang telah di sediakan, dan membayar uang sebesar Rp. 3000 per orangnya, nah habis itu langsung menelusuri ruang demi ruang di dalam istana. Berbagai jenis peninggalan kerajaan Siak. Dari kursi kerjaan, photo-photo pemimpin kerajaan, perkakas rumah tangga dan pernak pernik lainnya. Nah ni saya jabarnya pemimpin kerajaan siak dari yang pertama sampai yang terakhir: Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah (1725-1746), Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah (1746-1765), Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1765-1766), Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766-1780), Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1780-1782), Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (17821784)
Sultan Assaidis Asyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (1784-1810), Sultan Asyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin (1810-1815), Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (1815-1854), Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin (Syarif Kasyim I, 1864-1889), Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1989-1908), Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalif Syaifudin (Syarif Kasyim II), (1915-1949), itu yang pernah memimpin kerajaan Siak.
Hampir lupa, katanya kalau kita menghitung jumlah anak tangga yang mau naik ke lantai 2 ngak pernah sama hitungannya, memang iya sih, kami sempat hitung namun hitungannya beda-beda, temanku yang pertama 38, temanku yang ke dua 37 dan aku sendiri 36. Nggak tau hitungan mana yang benar, udah pernah coba?? Kalau belum, kalau ke sana coba aja hitung. Setelah puas di istana kami menuju pinggiran sungai yang berada di depan istana siak, tapi ngak bisa lama2 menginggat waktunya udah sore dah pukul 17.30, jadi kami langsung pulan, perjalanan pulangnya harus membawa motor dengan kecepatan yang cukup tinggi…hehhee biar cepat sampai rumah, takutnya kemalaman tiba di pekanbaru. Magrib kami samapi di perawang dan kejebak antrean lagi, ya mau gimana lagi, mau ngak mau terpaksa menunggu, pukul 19.00 barulah bisa menyebrangi sungai siak.
Diseberang sungai, tepatnya di Perawang kami istirahat dulu untuk makan malam, perut terasa lapar banget. Kami singgah di sebuah warung pecel lele disana, setelah itu barulah kami langsung menuju pekanbaru, kira-kira pukul 21.00 kami tiba dipekanbaru, hhmmhh……baru terasa hilang letihnya setelah beberapa jam mengendarai sepeda motor. Langsung mandi……hihihihi
Tunggu cerita selanjutnya……hihihihihiihi